, , , , ,

TNI Terjunkan Pasukan Khusus dan Fleet Helikopter: Operasi Militer Selain Perang (OMSP) Padamkan Karhutla di Wilayah Perbatasan

PONTIANAK — Tentara Nasional Indonesia (TNI) bergerak masif menunjukkan komitmen utamanya dalam melindungi kedaulatan wilayah serta keselamatan warga negara dari ancaman bencana ekologis. Melalui amanat Operasi Militer Selain Perang (OMSP), jajaran TNI mengerahkan ratusan prajurit gabungan dan armada udara canggih untuk memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah perbatasan Kalimantan. Apel kesiapsiagaan…

PONTIANAK — Tentara Nasional Indonesia (TNI) bergerak masif menunjukkan komitmen utamanya dalam melindungi kedaulatan wilayah serta keselamatan warga negara dari ancaman bencana ekologis. Melalui amanat Operasi Militer Selain Perang (OMSP), jajaran TNI mengerahkan ratusan prajurit gabungan dan armada udara canggih untuk memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah perbatasan Kalimantan.

Apel kesiapsiagaan pasukan dipimpin langsung oleh Panglima Kodam XII/Tanjungpura di Makodam, Pontianak. Pengerahan pasukan khusus penanggulangan bencana ini menjadi jawaban konkrit TNI atas eskalasi titik api yang sempat meluas di beberapa kawasan hutan lindung dan lahan konsesi terisolasi.

TNI menegaskan bahwa tugas memadamkan kebakaran hutan dan menyelamatkan ekosistem negara adalah bagian integral dari upaya menjaga pertahanan nasional serta keselamatan segenap bangsa Indonesia.

Pengerahan Pasukan Darat dan Strategi Penetrasi Hutan Dalam

Dalam operasi darat kali ini, Kodam XII/Tanjungpura menerjunkan batalyon infanteri teritorial, unit zeni, serta jajaran BKO (Bantuan Kendali Operasi) dari Korps Marinir TNI AL dan Korpaskhas TNI AU. Para prajurit ini dilengkapi dengan peralatan pemadaman portabel bertekanan tinggi, cangkul khusus pembuat sekat bakar (firebreak), serta perlengkapan navigasi hutan tropis.

Tantangan utama yang dihadapi pasukan TNI di lapangan adalah lokasi titik api yang kerap berada jauh di dalam hutan rimba atau kawasan gambut dalam yang tidak dapat diakses oleh kendaraan roda empat biasa.

“Prajurit TNI dituntut memiliki daya tahan fisik luar biasa. Mereka melakukan penetrasi jauh masuk ke dalam kawasan hutan lindung, mendirikan posko tenda darurat di tengah area gambut, dan bekerja siang malam memadamkan lidah api serta mengeliminasi asap bawah tanah (ground fire). Ini adalah bentuk pengabdian tanpa batas prajurit untuk rakyat,” tegas Pangdam XII/Tanjungpura saat melepas pemberangkatan Satgas Karhutla TNI.

Pasukan darat TNI bertugas secara sporadis membuat sekat bakar buatan seluas puluhan meter untuk memutus rantai penyeberangan api yang terbawa angin kencang. Mereka juga menyusuri sungai-sungai kecil menggunakan perahu karet guna menjangkau kantong-kantong kebakaran di area terpencil.

Operasi Udara: Water Bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)

Selain mengandalkan kekuatan tempur darat, TNI bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG mengendalikan operasi udara secara masif. Armada udara TNI AU menerjunkan helikopter serbaguna Super Puma dan Mi-17 yang dimodifikasi khusus untuk misi water bombing (pemboman air).

Helikopter-helikopter tersebut melakukan ratusan kali sorti penerbangan setiap harinya, mengambil air dari danau maupun sungai terdekat, lalu menyiramkan puluhan ribu liter air tepat di atas lidah api yang membakar vegetasi kanopi hutan yang sulit dijangkau pasukan darat.

Di sisi lain, pesawat angkut Cassa 212 dan C-130 Hercules milik TNI AU dikerahkan secara nonstop untuk menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan.

“Pesawat TNI AU terbang melintasi awan-awan potensial (cumulus) di atas wilayah udara Kalimantan Barat untuk menaburkan tonan garam khusus (NaCl). Langkah ini terbukti efektif memicu terjadinya hujan buatan secara presisi di atas kawasan hutan yang terbakar hebat, sehingga dapat menurunkan intensitas titik panas secara drastis,” papar Komandan Lanud Supadio Pontianak.

Pendekatan Humanis: Patroli Dialogis dan Baksos Kesehatan TNI

Sebagai institusi yang lahir dari rakyat, aksi TNI di lapangan tidak hanya berfokus pada penyiraman air dan pembuatan sekat bakar. Para prajurit Bintara Pembina Desa (Babinsa) bergerak aktif mendatangi pemukiman warga desa perbatasan melalui pendekatan patroli dialogis dan penggalangan sosial.

Babinsa memberikan pemahaman secara santun dan mengedukasi masyarakat desa agar tidak menggunakan cara pembakaran saat meretas lahan ladang. Pendekatan berbasis kearifan lokal ini dinilai sangat manjur untuk mencegah terjadinya potensi kebakaran baru yang dipicu oleh aktivitas manusia.

Tak hanya itu, Tim Kesehatan Lapangan TNI mendirikan Posko Pengobatan Terapung dan Posko Kesehatan Mobil yang menyisir desa-desa terisolasi yang terpapar kabut asap tebal. Prajurit medis TNI membagikan paket vitamin, obat-obatan pernapasan, serta tabung oksigen gratis bagi lansia dan anak-anak yang rentan terserang penyakit saluran pernapasan.

Kesiapsiagaan Berkelanjutan Demi Kedaulatan Lingkungan

Operasi penanggulangan karhutla oleh prajurit TNI ini dipastikan akan terus berlangsung hingga seluruh titik panas benar-benar padam dan kualitas udara di wilayah Kalimantan Barat kembali pada ambang batas normal.

Panglima Kodam menyuarakan bahwa kebersamaan antara TNI, Kepolisian, Pemerintah Daerah, dan seluruh komponen masyarakat merupakan kunci utama kemenangan Indonesia dalam menghadapi bencana karhutla. TNI menyatakan kesiapan penuh 24 jam untuk mengerahkan alutsista dan personel terbaiknya kapan pun dan di mana pun negara membutuhkan penanganan darurat bencana demi keselamatan rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *